Perayaan HUT ke-80 RI di Sulawesi Tengah mendadak dikejutkan gempa bumi berkekuatan 5,8 skala Richter pada Minggu pagi, 17 Agustus 2025. Pusat gempa terdeteksi di bawah laut, sekitar 15 kilometer utara Kabupaten Poso, dengan kedalaman 10 km.
Meskipun tidak menimbulkan tsunami, getarannya cukup kuat dirasakan hingga ke beberapa daerah sekitar, termasuk Morowali dan Palu. Banyak warga berhamburan keluar rumah, sementara ibadah Minggu pagi di gereja sempat terganggu akibat kepanikan.
Puluhan Korban Luka-Luka
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sedikitnya 29 orang mengalami luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Mayoritas korban merupakan jemaat gereja yang terkena runtuhan atap saat sedang beribadah.
Petugas medis segera dikerahkan ke lokasi, dan sejumlah korban dirawat di RSUD Poso serta rumah sakit terdekat. Hingga sore hari, pemerintah daerah masih melakukan pendataan kemungkinan adanya korban tambahan.
Kerusakan Bangunan
Selain korban luka, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum. Sebuah gereja dilaporkan mengalami keretakan parah, sementara beberapa rumah warga roboh sebagian. Listrik sempat padam di beberapa titik, namun sudah mulai dipulihkan oleh PLN setempat.
Sekolah dan gedung pemerintahan di sekitar lokasi juga diperiksa untuk memastikan keamanan struktur bangunan sebelum digunakan kembali.
Evakuasi dan Penanganan Darurat
Tim SAR, TNI, dan Polri dikerahkan ke lokasi terdampak untuk membantu evakuasi. Warga yang tinggal di daerah rawan longsor diminta mengungsi ke titik aman. Posko darurat didirikan di lapangan desa untuk menampung warga yang rumahnya rusak.
Logistik berupa makanan, selimut, dan obat-obatan mulai didistribusikan. Relawan lokal ikut serta membantu evakuasi korban dan mengatur kebutuhan mendesak.
Respon Pemerintah Pusat
Kepala BNPB menyampaikan bahwa pemerintah pusat memantau langsung perkembangan di Sulawesi Tengah. Presiden Prabowo Subianto dalam pidato singkatnya usai upacara HUT RI di Jakarta menyampaikan belasungkawa dan memastikan dukungan penuh bagi warga terdampak.
Ia juga menegaskan pentingnya mitigasi bencana di daerah rawan gempa seperti Sulawesi, mengingat wilayah ini berada di jalur cincin api Pasifik yang aktif.
Trauma Warga dan Kekhawatiran Susulan
Meski tidak menimbulkan tsunami, banyak warga masih trauma dan memilih bertahan di luar rumah sepanjang hari. BMKG memperingatkan potensi gempa susulan dengan intensitas lebih kecil, sehingga masyarakat diminta tetap waspada.
Psikolog dari Universitas Tadulako menyebutkan bahwa dukungan psikososial penting diberikan kepada anak-anak dan lansia yang mengalami ketakutan mendalam pascagempa.
Hari Merdeka yang Terguncang
Ironisnya, gempa ini terjadi di saat masyarakat tengah mempersiapkan perayaan HUT kemerdekaan. Banyak acara perlombaan yang terpaksa ditunda atau dibatalkan demi keamanan. Namun, warga tetap menegaskan semangat merdeka tidak padam meski didera bencana.
Beberapa kelompok masyarakat justru menjadikan momen ini sebagai solidaritas bersama: lomba 17-an dialihkan menjadi kegiatan gotong royong membantu korban gempa.
Mitigasi dan Edukasi Bencana
Pakar kebencanaan mengingatkan bahwa gempa di Sulawesi bukan hal baru. Karena itu, edukasi tentang mitigasi bencana harus terus diperkuat. Simulasi evakuasi, bangunan tahan gempa, dan jalur evakuasi yang jelas bisa menyelamatkan banyak nyawa di masa depan.
Pemerintah daerah diharapkan menjadikan kejadian ini sebagai alarm untuk mempercepat program mitigasi.
Kesimpulan
Gempa 5,8 SR di Sulawesi Tengah pada 17 Agustus 2025 menjadi pengingat keras bahwa Indonesia masih rentan bencana alam. Meski tidak menimbulkan tsunami, puluhan korban luka dan kerusakan bangunan memperlihatkan dampak serius.
Di hari kemerdekaan, rakyat Indonesia kembali diuji. Namun semangat gotong royong yang muncul di tengah bencana menunjukkan bahwa persatuan bangsa tetap teguh berdiri.